Posts filed under 'Islam'
Makna Sebuah Kewajiban
Saya baru aja dapet amanah yang sangat besar, jadi ketua PAKDUMARU (Paket terpadu mahasiswa baru), sebuah acara yang bakal diselenggarakan oleh maganger KOKESMA 2008 buat anak-anak TPB. Begitu tau dapet amanah ini, kontan aja isi hati saya langsung bergolak. Gak tau harus gimana. sedih? senang? kesal? bahagia? semua langsung bercampur aduk.
Besoknya, saya ada mentoring sama kakak mentor saya, Kang Ivan. Beliau ini sebenernya adalah sosok yang saya kagumi, karena beliau ini bisa menjalani kehidupan dengan islami di kampus ITB, tanpa menghalanginya berbuat lebih di kalangan masyarakat ITB, malah beliau termasuk orang yang dihormati di angkatannya. Dan yang terpenting lagi, beliau udah nikah!! (naon deui?)
Loh kok jadi ngomongin Kang Ivan? Lanjut deh,, dalam mentoring kali ini, beliau ‘menyuguhi’ kami dengan sebuah kertas, berjudul “Kewajiban Lebih Banyak dari Waktu yang Dimiliki”. Hmm,, menarik,, berhubung saya juga baru dapet kewajiban baru.
Lanjut ya,, kebanyakan orang menganggap kewajiban sebagai beban berat yang harus dipikul dan dipertanggungjawabkan di hadapan pemberi kewajiban itu (ya iyalah, masa ya iya dong!!). Tapi, kebanyakan orang malah menganggap kewajiban itu sebagai pemberat hidupnya. Semakin banyak kewajibannya, semakin berat pula beban hidupnya (menurutnya), dan ia malah menjadi orang yang tidak produktif.
Nah, kalo orang beriman, seharusnya memahami kewajiban yang ada pada dirinya adalah ketetapan Allah, dan memahami kewajiban itu sebagai:
1. Peluang terbesar untuk mendekatkan diri kepada-Nya
2. Peluang untuk meningkatkan kualitas diri
3. Tangga untuk memperoleh cinta Allah
Kontan saya bertanya di dalam hati, “Gimana kalo emang kewajiban yang seseorang pikul itu emang sangaaaaat berat sampe dia gak bisa mikul?”
Ternyata di bawahnya ada tulisan, “Dan Allah tidak membebankan kepada seseorang kecuali seseuai dengan apa yang dimampui.” (QS. Al Baqarah: 286). Aha! bener!! Manusia gak akan dapet kewajiban yang ngga bisa dia tunaikan. Kalaupun ada, orangnya aja yang ga bener, atau emang ada rencana Allah lain.
Dan setiap orang tentu saja dapet porsi kewajiban yang berbeda-beda. Kewajiban orang kaya beda dengan orang miskin, orang pinter beda dengan orang yang kurang pinter, kewajiban bos beda dengan kewajiban anak buah, dst.
Ah, jadi inget kata-kata waktu saya baru dilantik jadi pengurus DKM dulu, “Kalian adalah suatu bangunan dakwah yang kokoh yang dibuat dari keberagaman kalian, janganlah sia-siakan keberagaman kalian!” Kalo gak salah itu dari Quran tapi lupa surat apa…
Kewajiban itu ada jenjangnya, lho! (kaya’ sekolah aja..) Maksudnya, kewajiban yang diberikan Allah sama kita emang sama sih, tapi kesanggupan kita dalam memenuhinya pasti berjenjang, kan? Ini jenjang-jenjangnya:
1. Kewajiban dzatiyah (pada diri sendiri)
Kewajiban untuk menempa diri menjadi pribadi unggul.
2. Kewajiban kepada Allah
Kewajiban yg menguatkan hubungan dengan Allah, sehingga setiap saat pertolongan Allah dapat diraih untuk mendapatkan sukses hidup dunia dan akhirat.
3. Kewajiban kepada sesama manusia
Kewajiban dalam menata harmoni kehidupan dalam ikantan nilai dan kebaikan.
Nah, jika jenjang pertama tidak dilewati, pasti kita nggak bakal jadi orang-orang yang dapat menunaikan kewajiban pada Allah. Jika no. 2 tidak dipenuhi, kita akan sulit mendapat pertolongan Allah, sehingga akan sulit pula memenuhi kewajiban no. 3.
Pertanyaannya, bisakah kita?
Add comment Mei 1, 2008
Dan Berikhtiarlah!!
Apaan tuh ikhtiar?
Bukan, bukan sejenis makanan. Ikhtiar adalah usaha seseorang dan usaha yang benar adalah usaha yang sungguh-sungguh (jiddiyah). Usaha yang sungguh-sungguh ini ditandai dengan adanya pengorbanan (tadhiyyah).
Tanda kita benar-benar berikhtiar atau ‘ikhtiar-ikhtiaran’ dapat kita lihat dari definisi di atas. Kita melihat kesungguhan kita dalam melakukan usaha, dan harus ada unsur pengorbanan dalam ikhtiar tersebut. Pengorbanan apa saja, baik waktu, tenaga, pikiran, harta, dan banyak lagi.
Mengapa kita harus berikhtiar?
Pertama, supaya niat kita tidak sia-sia. Ini telah dibahas di awal. Ibarat kita membangun sebuah rumah, niat itu adalah pondasi dari rumah tersebut, sedangkan ikhtiar adalah tembok. Ikhtiar yang tidak sungguh-sungguh bagaikan tombok yang dibuat dengan ‘gak niat’. Retak di mana-mana, bolong-bolong, dan tidak akan nyaman jika dijadikan rumah.
Kedua, agar kita mendapat ‘kepuasan’ dalam beraktivitas dan tidak menyesal di kemudian hari karena tidak bersungguh-sungguh. Misalnya jika kita ujian, sedangkan kita belajar hanya sedikit-sedikit, biasanya saat melihat soal kita langsung teringat, “Loh ini kan yang pernah saya liat di buku kemaren, tapi gak dibaca.” dan kita menyesal tidak belajar sungguh-sungguh di hari sebelumnya.
Ketiga, segala perbuatan baik yang dilakukan seungguh-sungguh dengan niat yang lurus pasti akan dibalas oleh Allah SWT. Seperti yang ada dalam Al-Quran surat Al-Isra ayat 19, “Dan barang siapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedangkan dia beriman, maka mereka itulah orang yang usahanya dibalas dengan baik.”
Gimana caranya?
Luruskan niat, lalu fokus pada kegiatan itu, jangan membagi fokus dengan yang lain, karena ½ + ½ tidak sama dengan satu. Dalam hal ini malah bisa menjadi nol. Yang terpenting ialah fokus. Setelah bisa fokus, kerahkan kemampuan kita sebaik-baiknya. Terapkan prinsip “5 as” nya Aa Gym, “bekerja keras, bekerja cerdas, bekerja ikhlas, bekerja mawas, bekerja tuntas.”
Bekerja keras, artinya kita mengerahkan kemampuan kita sampai batasnya dalam pekerjaan itu.
Bekerja cerdas, artinya kita bekerja dengan efisien, cerdas, dan segala sesuatu sudah direncanakan dengan matang.
Bekerja ikhlas, artinya kita meniatkan ini hanya untuk Allah SWT, walaupun mungkin ada niat lain, niat pokok kita tetap untuk Allah SWT.
Bekerja mawas, artinya kita selalu melihat pekerjaan kita yang lalu, dan selalu evaluasi diri..
Bekerja tuntas, artinya kita bkerja jangan setengah-setengah, kerjakan sampai tuntas, baru ke pekerjaan lain, seperti Al-Quran surat Al-Insyirah ayat 7, “Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan lain).”
Apa saja yang bisa kita dapatkan dengan berikhtiar?
Pertama, hasil pekerjaan yang memuaskan, tentunya. Segala sesuatu yang dikerjakan dengan kesungguhan akan mendapat hasil yang baik juga. Kalaupun tidak, kita akan puas dengan usaha kita yang sudah maksimal. Ada yang namanya golden triangle, “KESUNGGUHAN + PENGORBANAN + KESINAMBUNGAN = PROFESIONALISME”.
Kedua, Insya Allah yang kita kerjakan akan mendapat balasan di akhirat. Seperti Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 201-202, “Dan di antara mereka ada yang berdoa, ‘Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.’ Mereka itulah yang memperoleh bagian dari apa yang telah mereka kerjakan, dan Allah Mahacepat perhitungan-Nya.” atau Quran surat Al-An’am ayat 132, “Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.”
Kapan kita harus mulai berikhtiar?
Mulai dari saat ini!
Ini salah satu materi dari eksplosif (Eksplor Islam Intensif klo gak salah, lupa kepanjangannya), salah satu kerjaan DKM Al Furqan SMAN 3 Bandung, kebetulan saya masih ikut ngurus ke sana. Sebenarnya materi ini ada sambungannya, tapi nanti aja deh saya postnya, masih tercecer.
Add comment April 21, 2008
