WordPress Hari Ini dan SOPA
Tadi ketika saya membuka halaman utama wordpress, saya cukup terkejut dengan “penampilan”-nya hari ini.
Ternyata, wordpress sedang melakukan aksi menentang SOPA. Semua yang “censored” di sana pun ditautkan ke website Strike Against SOPA. SOPA?
SOPA (Stop Online Piracy Act) adalah sebuah rancangan undang-undang (RUU) yang dibuat oleh kongres di Amerika Serikat sana untuk “melawan” pembajakan melalui media online. Bayangkan saja, kita tidak bisa sembarangan menyebarkan konten ke dalam internet, baik gambar, video, suara, hingga hanya kata-kata saja. Jika undang-undang ini disahkan, maka penyedia internet dapat mengeblok situs-situs yang menyebarkan konten-konten tertentu. Tentu saja, hal ini memicu banyak pelaku online untuk memprotes, terutama penyedia website yang isinya berasal dari publik, seperti Youtube, WordPress, Wikipedia, dan lain-lain. Tentu saja, karena keberadaan mereka sangat terancam dengan SOPA ini.
Jika SOPA ini direalisasikan, tentu saja semua konten informasi yang ada di internet akan dibatasi. Entahlah, jika semua konten di internet ini diklaim dan diblok, maka kita bisa dapat apa di internet? Kita mungkin akan susah mendapatkan informasi apa-apa di internet, kecuali kita membangun suatu jaringan sendiri yang terpisah dari Amerika (seperti di Cina, misalnya), tapi kan kita harus akui bahwa konten kita kebanyakan dari sana (Amerika). Sungguh sangat merugikan tentunya.
Berbagai gerakan telah dilakukan oleh para empunya website. Di wordpress sendiri, kita dapat memasang “pita” bertulis “STOP CENSORSHIP” seperti yang saya lakukan di sini
Wikipedia bahkan memasang sebuah script untuk menghitamkan seluruh layarnya beberapa saat setelah kita buka dan bertuliskan “Imagine a world without free knowledge”
yu ah,,
Ban Ini
Tadi siang saya terkena musibah yang sangat menyebalkan bagi pengendara sepeda motor. Ban bocor
Ya, sangat menyebalkan, apalagi tukang tambal ban yang dicari cukup jauh jaraknya.
Hari ini ban motor saya pun bocor dua kali, sampai akhirnya saya memutuskan untuk mengganti ban dalam saja. Yang sebelumnya cuma bertahan beberapa menit sih
padahal bocor sebelumnya juga berasal dari tambalan ban beberapa minggu yang lalu (saya sudah lupa)
Ya, memang kualitas para penambal ban di kota ini berbeda-beda, ada yang tahan dibawa sampai 100 km lebih, ada yang baru 5 menit sudah jebol lagi. Apakah harus dibuat standardisasi penambalan ban? Kan sayang juga waktu dan uang yang terbuang hanya gara-gara ban bocor.
Mungkin harus dibuka “Institut Tambal Ban” yang sebenarnya nanti
yu ah,,
Velcro?
Di suatu siang yang cerah, saya terlibat percakapan dengan Wafdan, teman seperjuangan saya. Di sana, saya mendengar satu kata yang baru saya dengar selama ini. VELCRO.
Wafdan: Man, beli kantong hape buat di sabuk di mana yah?
Saya: Lho, bukannya itu sudah ada? *menunjuk ke kantong yang di sabuknya*
Wafdan: Ini sih “pindahan” dari tas, penutupnya pake velcro, gak enak..
Saya: *berpikir* Velcro?
Wafdan: Itu lho man.. *menjelaskan*
Saya: Oooooh, “perepet” toh..
Ternyata velcro itu sering saya sebut perepet
Bagi yang belum tahu, ini dia velcro yang dimaksud:
Velcro adalah sebuah rangkaian bahan tekstil yang terdiri dari dua bagian yang dapat menyatu jika dipertemukan. Dua bagian tersebut terdiri dari yang kasar (seperti pengait) dan yang halus. Di daerah saya, benda ini disebut perepet karena jika ditarik (dibuka) akan berbunyi preeeet
Kegunaan velcro ini banyak, mulai dari sepatu, tas, boneka, hingga tank baja
sebuah penemuan yang sangat berguna dan menggembirakan bagi kita
yu ah,,
Museum Ini, Museum yang Terlupa
Tadi siang, saya jalan-jalan dan bermain ke sebuah museum di Bandung.
Yak betul, saya baru saja main ke Museum Sri Baduga Bandung
banyak yang saya lihat di sana, dari kain-kain batik, perabotan kuno, sampai batu-batu prasasti. Sayang di sana tidak boleh memotret (ada tandanya), walaupun akhirnya saya menemukan banyak juga pengunjung yang memotret
Saya memang jarang ke museum, terakhir kali ke sana saja saat saya SMP (kira-kira 8 tahun lalu). Tapi, ketika saya selesai dan keluar dari gedung museum, ada satu perasaan yang mengganjal. Ya, entah kenapa saya masuk dan keluar museum bisa dibilang hanya “begitu saja”, seperti tidak ada yang spesial. Walaupun begitu, saya tetap senang kok bisa ke sana.
Dengan kandungan informasi yang sangat banyak dan pelajaran-pelajaran yang berharga, seharusnya museum ini bisa lebih dari sekedar museum. Selain harus dirawat dengan baik, layanan ke pengunjungnya juga harus baik. Jujur, saya sendiri agak tidak mengerti apa yang ada di museum, tulisan keterangan di situ terkadang tidak menceritakan apa yang seharusnya diceritakan (saya melihat mainan dari bambu, tetapi malah tertulis, “mainan yang terbuat dari kulit binatang ini…”).
Sebenarnya museum ini bisa menjadi jauh lebih baik jika tercurah cukup waktu dan biaya. Tiket masuk bisa dinaikkan harganya (saya masuk dengan bayar 2500 rupiah), tetapi pengunjung bisa disuguhkan sesuatu yang lebih, seperti katalog, brosur, atau mungkin tour guide.
Intinya, yang penting dari museum bukan hanya isinya saja, melainkan juga penyampaian isinya. Maju terus museum Indonesia
Semoga museum ini tidak dimuseumkan ya
yu ah,,





Komentar